Wawancara via Email dengan Suaka Online

Posted by | Follow @romeltea

Wawancara via Email dengan Suaka Online tentang Jurnalistik Online


PADA Mei 2014 saya diwawancara oleh reporter Suaka Online (Lembaga Pers Mahasiswa UIN SGD Bandung) tentang Jurnalistik Online. Namun, entah keburu lulus atau dipecat tuh sang reporter, hasil wawancara itu tidak dimuat. Saya search di Google juga gak ada.

Sayang sudah mencurahkan tenaga, waktu, dan pikiran, juga pulsa koneksi internet, untuk jawab pertanyaan, namun tidak dimuat, maka saya muat saja hasil wawancara itu di sini.

Assalamua’alaikum
Wa’alaikum salam wr wb………

Bapak ini Putri dari Suaka. Mau mewawancarai bapak mengenai Jurnalistik online. Bapak sangat produktif sekali dalam dunia jurnalistik online, terbukti ketika kami mencari nama bapak melalui google search engine. Bisa diceritakan awal bapak menggeluti bidang jurnalistik online?

Saya mulai menggeluti Jurnalistik Online (JO) tahun 2000, ketika menjadi pengasuh rubrik konsultasi jurnalistik dan penyiaran di situs eramuslim.com. Otomatis dong, sebagai konsultan, saya harus terussssss banyak belajar karena pertanyaan yg masuk sangat beragam. 

Karena eramuslim.com itu media online, ya banyaknya yang tanya seputar jurnalistik online. Dari situ saya lalu membuat blog, mulai di blogspot, wordpress, multiply, livejournal, hingga self domain dan self-hosting www.romeltea.com. 

Nah, dengan mempunyai banyak blog itulah saya learning by doing tentang blogging, media online, dan jurnalistik online, hingga bisa menulis buku Jurnalistik Online: Panduan Mengelola Media Online (2012), buku JO pertama dan satu-satunya yang berbahasa Indonesia. Terbitan Nuansa Cendekia Bandung.

Menurut sumber yang kami terima, ketika kuliah bapak mengambil bidang hubungan internasional. Bisa diceritakan mengapa bapak akhirnya memilih bidang jurnalistik terlebih lagi jurnalistik online?

Ya, saya alumni Jurusan Hubungan Internasional (HI) FISIP Unpad. Sejak kelas 2 Tsanawiyah, saya sudah mulai menulis, bakat alami kali ya…. 

Pertama kali nulis di majalah bulanan Kanwil Depag Jabar, Media Pembinaan, yang selalu ada di rumah, karena ibu saya guru agama di madrasah ibtidaiyah PUI di kampung saya, di Bogor, dan sebagai PNS guru agama ibu saya “dipaksa” membeli majalah itu tiap bulan saat gajian. Otomatis dong saya baca entah kenapa jadi bisa nulis. Jadi, kalo mau bisa nulis, harus banyak baca!

Saya terus menulis hingga SMA. Di SMA saya mengelola mading, bahkan memelopori penerbitan majalah sekolah, MANDA namanya. Singkatan dari Majalah SMAN 2 (Bogor). Saat kuliah di Bandung, terus nulis. Di kampus saya jadi aktivis pers kampus, bahkan memelopori penerbitan Majalah Mahasiswa FISIP Unpad. Namanya POLAR. Hingga kini masih ada tuh Polar di FISIP Unpad.

Selain aktif di pers kampus, saya sering nulis di Pikiran Rakyat (PR) dan media lainnya di Bandung, termasuk di Tabloid Salam. Nah…. Ketika PR menerbitkan Tabloid Mingguan Hikmah, saya diajak gabung. Maka, jadilah saya wartawan Grup PR. Itu terjadi ketika saya duduk di semester 7. 

Nyaris gak lulus kuliah karena keasyikan jadi wartawan. Untungnya pemred saya waktu itu selalu ngingetin saya agar tuntaskan kuliah. Saya pun lulus, di “kloter terakhir”, berdua sama teman sekelas yang saat ini jadi redaktur di Antara News.

Jadi, kenapa saya milih bidang jurnalistik, padahal mestinya seperti kebanyakan teman sekelas yang jadi diplomat (jalur penyaluran sarjana HI), ya… itu… karena “gak sengaja”. 

Keasyikan jadi wartawan, hingga gak kepikiran melamar kerja lain, jadi PNS pun gak kepikiran, karena merasa asyik, enjoy, di dunia jurnalistik. Saya bisa “keliling dunia” berkat jadi wartawan ini, termasuk Umroh. Free! Ongkosnya diatur sama Allah SWT. He he…

Mengapa bapak tertarik dengan bidang tersebut?

Gak tertarik sih… tepatnya gak sengaja tertarik J dan saya menikmatinya. Dengan terjun di bidang jurnalistik, saya bisa menjadi mata dan telinga publik, serta ekspresi diri (self expression). 

Dengan menulis saya bisa “berteriak”, memuji, bahkan “caci-maki” melepaskan “galau” dan amarah terhadap pemerintah misalnya, tentu masih dalam koridor jurnalistik yang santun dan taat kode etik. I do really enjoy this journalism world!

Saat ini berapa banyak web yang bapak kelola?

Waduh…. Berapa ya… banyak deh. Lebih dari 10 pokoknya. Soalnya saya bukan saja nulis atau ngisi website, tapi banyak juga lembaga yang meminta saya membuatkan websitenya. Istilahnya, saya ini webmaster dan web developer juga. Bisa bikin, sekaligus ngisi.

Tapi yang paling rutin saya kelola mah website Dompet Dhuafa Hong Kong, DDHK News. Url-nya www.ddhongkong.org. Di DD Hong Kong sejak 4 tahun terakhir ini saya jadi Marketing Communication Manager, sekaligus menjadi Chief Editor DDHK News, jadi admin sosmednya, juga membina para relawan reporter dari kalangan TKW Hong Kong. 

Reporter DDHK News itu semuanya TKW Hong Kong. Mereka kirim berita ke saya via Facebook. Komunikasi juga via FB, sesekali via WhatsApp dan Skype.

Apakah bapak memiliki tokoh inspirasi dalam bidang jurnalistik online?

Tidak punya. Kalau bidang media online ada, yaitu Jakob Nielsen. Googling aja ya, siapa itu Jakob Nielsen. Yang jelas, berkat risetnya, terjadi revolusi di bidang media online.

Menurut bapak mengapa media online perlu dikembangkan? Apa fungsinya bagi kalangan akademik dan Masyarakat ?

Karena media online itu media masa depan. Jurnalistik online itu jurnalistik masa depan. Media online kini merajai dunia. 

buku jurnalistik online
Media online itu media tercepat dalam penyebaran informasi, bisa diakses kapan saja dan di mana saja, terdokumentasi, kapasitasnya “unlimited”, bisa sajikan info kapan dan di mana saja dalam bentuk teks, foto, video, audio, grafis, dsb. Masyarakat bisa mengakses info secara cepat, juga kapan saja dan di mana saja, selama ada akses internet.

Kalangan akademisi juga kini “mengandalkan” media online untuk mencari data dan isu terhangat untuk dikaji, dianalisis, dan diteliti. Istilahnya, akademisi bisa online research kapan saja dan di mana saja. Apalagi Google menyediakan fasilitas Google Scholar atau Google Cendikia. Itu perpustakaan online terbesar!

Apa dampak positif dan negatif media online bagi kalangan akademik dan masyarakat?

Itu tadi, jawaban no. 6.

Pesan atau nasihat bapak kepada mahasiswa UIN dalam memanfaatkan media online?

Manfaatkan untuk kelancaran studi, riset data, dan… mengasah keterampilan menulis dengan Blogging! Bisa juga memanfaatkan media online untuk bisnis, bisnis online, bisa melalui Google Adsense, Affiliate Program, dan banyak lagi. Go Blogging! Itu pesan utama saja. Rasakan sendiri nanti manfaat dan berkahnya, mulai dari segi keilmuan, networking, hingga… dapet dolar!

Apakah mungkin untuk di UIN Bandung ini dikembangkan media online sebagai bahan pembelajaran?

Mungkin banget. Sejak lama saya sudah buka kelas online di blog saya, Online Class, tempat mahasiswa download silabus dan mater kuliah, juga komunikasi dengan saya. Hanya saja, masih sedikit banget kayaknya dosen di UIN ini yang “sadar media online”. Boro-boro mengembangkan bahan ajar di media online, lha wong blog aja banyak yang gak punya!

Terima kasih banyak atas waktunya pak.
Sama-sama…

Demikian Wawancara via Email dengan Suaka Online yang ternyata disia-siakan. Saya pun membiarkan saja, tidak tanya sama pewawancaranya. Biar sajalah... Wasalam.*

» Thanks for reading Wawancara via Email dengan Suaka Online

1 Komentar untuk "Wawancara via Email dengan Suaka Online"

No Spam, Please!

Back To Top